Mereka Ladang Ibadah

Keluarga Besar PT. SIMS

Keluarga Besar PT. SIMS

Ketika di ruang kuliah, mata kuliah dan tugas yang diberikan rasanya tidak ada hubungan yang signifikan. Media Komunitas, namun tugas yang diberikan untuk mempertemukan seseorang dan atau sekelompok yang kurang beruntung (voiceless) yang perlu disuarakan melalui mediasi ke seseorang dan atau kelompok yang memiliki kemampuan untuk menyuarakan kekurang beruntungannya. Tadinya aku berfikir mahasiswa akan diberikan tugas untuk membentuk dan atau mempelajari sebuah media komunitas berupa media elektronik, cetak ataupun media lainnya. Namun dalam perjalanannya, ada hikmah yang aku petik dari tugas ini, dimana inspirasi yang aku dapat dari sang dosen tersebut. Mendorong aku untuk mengunjungi sebuah panti di daerah Kalasan Jogja.
Anak Panti Yayasan Sayap Ibu

Anak Panti Yayasan Sayap Ibu

Yayasan Sayap Ibu demikian namanya, rasa ragu dan semangat bercampur aduk, ketika pertama kali aku menginjakkan kaki di panti tersebut. Di Panti ini selain yang mondok ada juga yang bersekolah dari anak-anak diluar panti (SLB-G) Sekolah Luar Biasa Ganda, dimana satu anak memiliki lebih dari satu cacat fisik.
Bercengkrama

Bercengkrama

Bertepatan dengan HUT PT. SIMS Cab Jogja yang ke 12, maka kunjungan ke panti ini menjadi salah satu program yang disetujui oleh pimpinan. Apakah tujuan ini benar-benar untuk kegiatan sosial “tanya temak-ku, pertanyaan yang mudah untuk dicerna namun tidak mudah untuk dijawab, karena niat hanya diketahui oleh dirinya dan Tuhan. Anak-anak yang tinggal dipanti rata-rata adalah anak-anak yang kelahiranya tidak diinginkan oleh ibu bapaknya, sehingga dicoba digagalkan dalam kandungan namun tetap lahir, sehingga dari anak-anak ini ada yang cacat. Interaksi yang sungguh luar biasa adalah ketika langsung bertatap muka dan mencoba memahami apa yang terjadi pada anak-anak ini sungguh Alloh SWT menyimpan rahasa yang maha dahsyat. Mereka begitu menikmati kunjungan dari kami, bercanda dan tawa bersama, Alhamdullilah banyak hadiah baik berupa barang dan uang kami sumbangakan saat itu.
Faisal

Faisal

Faisal Yunior (09-08-1997) anak panti, bahagia hanya dengan memainkan plastik yang kering dan berbunyi nyaring. Kakak pendamping selalu harus sigap ke Faisal yang tangannya diikat, jika tidak diikat tangannya, Faisal akan memukul-mukulkan tangan ke kepalanya yang nyaris buta..”ujar kakak pendampingnya menjelaskan kepada kami. Dari perjalanan ini, hikmah yang dapat aku petik adalah betapa orang-orang yang menjadi kakak pembimbing dan seluruh pengurus yayasan adalah orang-orang hebat. Mereka mengurusi yang bukan anak, sodara bahkan kenal pun tidak. Tidak ada keluh kesah, jangankan masalah jabatan, gaji yang didapatkan pun bukan ukuran kebahagiaan pengabdian mereka. Namun mereka begitu ikhlas dan menikmati profesi sebagai pekerja sosial, Alloh SWT menciptakan sesuatu dengan tujuan yang mulai, mereka adalah ladang ibadah. Bagi yang ingin berkunjung dan atau sekalian menyumbangkan sedikit rezekinya silahkan sms / call Bu Naryo 081 931 712442, selaku ketua panti.

Dari Kaki Merapi

Reog Ponorogo - Singo Dilogo

Reog Ponorogo - Singo Dilogo

Enam tahun penyelenggaraan sebuah hajat yang didedikasikan untuk anak-anak di kaki Gunung Merapi, digagas sejak tahun 2007 lahirlah Tlatah Bocah, area ramah anak. Menampilkan pentas kesesian anak-anak, yang tidak terbatas hanya dari sekitar Kaki Merapi, namun dalam penyelenggaraannya bahkan ada penampil dari luar negeri. Diselenggarakan pada saat libur panjang (kenaikan kelas) anak-anak sekolah, Rumah Pelangi lah yang menjadi motor penggerak dan didukung oleh seluruh perangkat desa formal informal dan seluruh lapisan masyarakat sekitarnya.
Tlatah Bocah

Warga Kaki Merapi

Lokasi pentas Tlatah Bocah setiap tahunnya selalu berpindah, dengan tujuan agar semua desa / dusun ikut merasakan denyut dari event yang dikhususkan untuk anak-anak ini. Walaupun pada kenyataannya orang tua, muda dan seluruh lapisan masyarakat dapat menikmatinya. Jika mencoba menghadirinya, akan kita nikmati petualangan dari desa ke desa, hawa sejuk pemandangan khas pedesaan akan memanjakan bagi orang kota yang sudah jarang menikmatinya. Jalan menanjak sesekali menurun terus mendekati Gunung Merapi, kadang kita akan menjumpai para pedagang bibit tanaman yang siap ditanam di halaman rumah kita, seperti cabai, rawit dan tomat, cukup menggoda.
Tlatah Bocah

Reog Ponorogo - Singo Dilogo

Tahun 2013 ini, diselenggarakan di Dusun Gumuk, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Event ini diselenggarakan didepan halaman warga. Sangat terasa kedekatan antara penampil dengan warga yang menjadi penonton. Interaksi warga dan beberapa pedagang yang mencoba menjemput rezeki dari keramaian penonton yang berdatangan silih berganti.
Mereka datang tampil dan berproses tanpa pamrih, hanya berbagi dan menyampaikan pesan lindungai anak-anak, dengan satu visi cipatakan lingkungan yang ramah untuk anak-anak. Diselenggarakan dua hari Sabtu dan Minggu 6 dan 7 Juli 2013, setiap penampil bersemangat untuk menunggu giliran, begitupun semangat para penonton untuk menyaksikan sajian dari para penampil.
Tlatah Bocah

Dayak Grasak - Bangun Budaya

Informasi lebih lanjut tentang Rumah Pelangi dapat di klik di http://tlatahbocah.org/, anak RP begitu mereka dengan bangga menyebut istilah keanggotaan warga Rumah Pelangi, berisikan orang-orang tangguh yang memiliki visi budaya dan berkesenian yang konsisten. Info lainnya dapat ditemukan juga dijejaring sosial Rumah Pelangi, eksistensi untuk mendistribusikan informasi dan kegiatan di era dgiital. Bagi penonton yang dari luar kota, kini bisa menginap, sudah disiapkan untuk menginap di rumah warga, sensi yang anda dapatkan menjadi bagian warga kaki Gunung Merapi. Pelajaran berhaga dalam perjalan ini adalah konsisten dan tetap istiqomah untuk menjalankan sesuatu, itu yang Rumah Pelangi ajarkan kepadaku, selamat berkarya salam budaya.

Untuk Dewa Rudra

Seperti apa kecakapan nenek moyangku dahulu ? pertanyaan tersebut selalu hadir ketika mengunjungi candi, kuda besi aku pacu sejak pukul 1545 wib menuju ke timur kota Jogja, hampir mendekati perbatasan antara propinsi DIY dan Kabupaten Klaten – Jawa Tengah. Kawasan Candi Boko yang menjadi targetku kali ini, Selasa 28 Agustus 2012, menjadi hari yang menyenangkan, untuk melepaskan penat seharian bekerja dengan memotret. Candi Boko yang menjadi impianku dikala senja, hiruk pikuk kendaraan bermotor berpacu dengan saudara-saudraku yang nampak pulang kerja di sore itu, berjejal perjalanan disetiap lampu merah, namun segera terurai di jalan aspal yang panjang mulus, menuju kawasan wisata Candi Boko.

Bermain Bola

Tidak perlu khawatir untuk menuju Candi Boko, karena petunjuk arah akan banyak dijumpai. Semakin mendekat kawasan Candi Boko, suasana pedesaan mulai terasa, aku memilih masuk melalui pintu masuk yang langsung ke atas. Jalan menanjak, meliuk menemani kuda besi ku untuk terus ku pacu, aroma pedesaan semakin kental terasa, wow ternyata banyak yang berubah, decak kagum ku dalam hati, beberapa fasilitas tampak hadir dengan wajah baru. Sempat kaget dengan harga tiket untuk ukuran warga Jogja, namun keramahan petugas, free mineral water, free brosur tentang Candi Boko, suasana yang asri, bersih, pot pot bunga tertata rapih, kursi taman yang tersedia, kolam air mancur, tidak adanya pedagang asongan dan tersebarnya tong sampah rapih yang disponsori oleh salah satu hotel berbintang di Jogja, rasanya setimpal dan wajar harga tiket Rp. 25.000,- per pengunjun wisatawan nusantara, tentu berbeda untuk wisatawan mancanegara dan aku setuju itu.
Tak berfikir panjang, camera digital pun aku mainkan, menjelajah dari sudut ke sudut Candi Boko, namun tetap yang menjadi best angle adalah menanti sunset di gerbang Candi Boko, bangunan pintu gerbang yang menjadi primadona dan icon dari Candi Boko. Masih berharap endapatkan sunset yang terbaik, cuaca cerah berawan, nampaknya saya kurang beruntung mendapatkan sunset di sore hari tersebut. Sejenak berdiri di papan informasi, tentang Candi Boko, betulkah ini candi ? akankah rasa penasaran tersebut terjawab.

Gapura Situs Ratu Boko

Situs Ratu Boko, alinea yang pertama aku baca, dan dalam penjelasannya, di kawasan Situs Ratu Boko, sebelum tahun 865 M Situs Ratu Boko adalah situs bercorak Buddhisme dibuktikan dengan tinggalan arkeologi, berbentuk stupa, archa Dhayani Buddha dan stupika. Kemudian pada tahun 865 M Situs Ratu Boko, didiami oleh penguasa beragama Hindu, bernama Rakai Walaing Pu Kumbhayoni. Di perkuat denan penemuan prasasti lainnya yaitu Prasasti Pereng (862 M), yang menerangkan adanya pembangunan bangunan suci Dewa Siwa yaitu Candri Badraloka. Dan temuan lainnya yang bersifat Hiduisme, terdiri dari Arca Durga, Arca Ganesa, miniatur candi, yoni dan prasasti lepengan emas. Berarti penamaan kata Candi Boko untuk memudahkan masyarakat, yang mengidentikan bangunan yang terbuat dari batu disebut candi, padahal Situs Ratu Boko terdiri dari beberapa bagian yang didalamnya terdapat candi dan situs-situs lainnya yang dapat kita pelajari, masih tersisa akan kejayaan nenek moyang bangsa Indonesia, menjadi bagian dari sejarah.
Dengan luas kawasan tidak kurang dari 160.000 m2, berada di bukit dengan ketinggian 195 diatas permukaan air laut, maka pengunjung dapat menyaksikan kota Jogja dari atas bukit ini. Terlebih menjelang senda, kerlap-kerlip lampu kota menjadi pemandangan yang sangat mengasikan, sesekali pesawat naik dan turun melintasi kawasan Situs Ratu Boko. Fasilitas, untuk buki perkemahan pun tidak kalah komplitnya, diantara rindang pepohonan, fasilitas umum seperti musholla, kamar mandi dan air yang bersih, menambah suasana kawasan wisata ini menjadi layak dikunjungi baik oleh keluarga ataupun lembaga perusahaan untuk mengadakan kegiatan outdoor.

Candi Ratu Boko

Om Rudra Ya Nama Swaha yang artinya pujian untuk Dewa Rudra (Siwa), tulisan ini tercantum pada penemuan prasasti emas di bak penampung air oleh para arkeologi, penasaran dengan prasasti emas tersebut ?, silahkan berkunjung ke Situs Ratu Boko, atau lebih populer dengan sebutan Candi Boko, hanya berjarak 2 Km dari Candi Prambanan, atau 18 Km dari Kota Jogja, tepatnya berada diantara Desa Sambirejo dan Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.
Terdengar sayup-sayup dari kaki bukit Adzan Maghrib pun berkumandang, menambah suasana menjadi syahdu, bergegas aku menuju musholla untuk tunaikan sholat yang tersedia tidak jauh dari kawasan bumi perkemahan, toilet dan air yang bersih yang deras, meyakinkan ku, bahwa pengelolah kini bersunggung-sungguh. Bangga jadi bagian Indonesia.